Selasa, 01 Maret 2011

OFFROAD BERSAMA JUARA NASIONAL MOTOCROSS AEP DADANG





Awal Maret 2011 tim CHEELA berkesempatan untuk offroad bersama penyandang beberapa kali juara nasional motocross Aep Dadang asal Bandung, Jawa Barat. RK dari tim CHEELA memandu offroad di jalur Poncokusumo dan finish di Gunung Bromo itu. Sebanyak 8 orang yang kebanyakan memakai motor Husqvarna meninggalkan Kota Tumpang jam 10.00 menuju arah Desa Pandansari, Kecamatan Poncokucumo, Kabupaten Malang. Keberangkatan kami diiringi dengan hujan rintik-rintik yang membuat kami harus memakai rain coat.

Sepuluh menit kemudian kami sudah sampai di jalur offfroad yang sedikit menanjak dan penuh dengan ceruk tanah akibat tergerus air hujan yang hampir tiap hari turun di daerah Poncokusumo itu. Kami langsung membetot gas motor, meliuk-liuk dan meloncati gundukan tanah. Melewati track pertama, setelah sedikit bebatuan, kami dihadang oleh jalur yang mengasyikan yaitu jalur double track yang penuh gundukan tanah ala super bowl.

Di jalur “seribu gundukan tanah” itu Aep Dadang yang merupakan juara nasional supercross tahun 2008 itu menunjukan skill-nya sebagai sang juara, Aep dengan TE 250-nya melibas habis gundukan tanah itu, diikuti oleh crosser masa depan Irfan yang menunggangi Yamaha YZF250. Aep dan Irfan yang punya pengalaman dan skill mumpuni di dunia motocross, dengan manisnya melahap “sirkuit alam” di Poncokusumo itu. RK yang juga kenyang asam garam offroad trail berusaha mengimbangi Aep dan Irfan yang melesat di barisan depan.

Offroad kali ini memang penuh dengan crosser. Selain Aep yang menyandang gelar juara nasional motocross beberapa kali, ada Irfan, anak muda yang punya talenta tinggi dan sepertinya punya harapan besar untuk jadi juara di masa mendatang. Ada juga Daniel Tangka, crosser andalan tim Djagung MX yang masih aktif balap di kelas ex-pro. Selain itu masih ada Adit yang juga terbiasa bergelut di sirkuit motocross. Praktis yang ikut offroad di hari yang tidak cerah itu adalah para penggila “speed offroad”, karena meskipun tim CHEELA bukan tim motocross namun dikenal sebagai maniak speed offroad dan jalur single track.

Puas pemanasan di jalur offroad di Poncokusmo, kami langsung menuju arah Bromo. Jalur pulang juga masih penuh gundukan tanah, namun jalurnya menurun tajam, Di jalur ini Aep Dadang, Irfan dan Daniel Tangka asyik terbang melibas gundukan tanah. Bahkan beberapa kali Aep dan Irfan terlihat melewati 2 hingga 3 gundukan tanah sekalligus. Hemm asyik sekali!

Tak lama kemudian kami memasuki Desa Kunci dan langsung membetot gas ke arah Bromo. Sekitar 5 menit kemudian kami sampai di Coban pelangi. Di Coban Pelangi bergabung Edi yang juga membawa TE 250.

Setelah istrihat sejenak, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo lewat jalur ke arah Kandangan. Jalur yang dilalui berupa single track dengan sisi kanan berupa jurang dengan kedalaman lebih dari 50 meter. Cuaca yang berkabut membuat kami harus extra hati-hati karena jarak pandang kurang leluasa. Apalagi di beberapa jalur ada banyak ranting pohon yang melintang. Terbukti di jalur ini kepala Daniel Tangka sempat terbentur potongan dahan yang melintang. Untung saja dia pakai helm jadi tidak sampai membuat kepala benjol.

Jalur yang kami lalui banyak lubang dalam. Jalur juga sangat sempit jadi membutuhkan kosentrasi dan feeling tinggi. Adit yang membawa Yamaha WRF 250 sepertinya kurang terbiasa offroad di jalur sempit dan penuh lubang. Beberapa kali dia mengerem mendadak, sehingga bikin kalang kabut pasukan yang ada di barisan belakang. Beberapa kali Daniel Tangka yang membawa Husqvarna WR 125 nyaris terjungkal karena menghindari Adit yang mengerem mendadak.

Sukses melewati jalur single track Kandangan, rombongan akhirnya sampai di lautan pasir Gunung Bromo. Di lautan pasir yang juga penuh bukit pasir ini para crosser menunjukan keahliannya. Aep, Irfan, Adit dan Daniel Tangka asyik terbang melibas puluhan gundukan dan bukit pasir yang ada di Gunung Bromo.

Puas “terbang”, kami melanjutkan perjalanan ke arah Cemoro Lawang. Di dekat Pura yang ada di kaki kawah Gunung Bromo, kami berjumpa dengan Pak Ogik yang sempat “kesasar” ketika rombongan menuju arah Poncokusumo. Akhirnya kami sama-sama menuju Hotel Lava View di Cemoro Lawang untuk mengisi perut.

Sekitar jam 15.00 wib kami sampai di Hotel Lava View. Semua terlihat kelaparan, maklum sudah sore hari dan rombongan tidak ada yang membawa bekal makanan. RK yang terbiasa membawa bekal makanan dan minuman, adalah satu-satunya orang yang tidak memesan makanan di restoran Lava View. Idealnya ketika offrtoad itu lebih baik membawa bekal makanan dan minuman yang cukup, karena kita tidak tahu apakah bisa finish tepat waktu atau mungkin malah “diharuskan” makan di tengah hutan. Apalagi jika punya catatan penyakit mag, hemm wajib hukumnya untuk membawa bekal makanan, kalau tidak mau masuk rumah sakit.

Usai makan, kami melanjutkan perjalanan membelah lautan pasir menuju Jemplang. Di jalur pulang ini kami membetot gas dengan kencang. Motor melesat di atas pasir yang padat akibat tersiram air hujan. RK, Irfan dan Aep berada di barisan terdepan melintas lautan pasir sepanjang 2 km itu.

Tak lama kemudian kami sampai di Coban Pelangi. Kamipun dengan senyum penuh kepuasan melakukan salam perpisahan. Sebuah pengalaman mengesankan, offroad bersama Aep Dadang yang ternyata piwai juga menekuk stang motor enduro di jalur offroad. Sampai ketemu di jalur offroad berikutnya!